Detikdimensi.com Pati — Proyek pengaspalan jalan di Dukuh Asemlegi, Desa Mangunlegi, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, menuai sorotan tajam dari warga. Pasca pengerjaan yang dinilai masih baru, kondisi fisik jalan di lapangan diduga mulai mengalami kerusakan.
Sejumlah titik pada badan jalan dilaporkan mulai berlubang dan lapisan aspalnya mengelupas. Kondisi ini memicu dugaan adanya ketidaksesuaian antara hasil pekerjaan di lapangan dengan spesifikasi teknis, volume, maupun anggaran yang digelontorkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Warga merasa kecewa dan heran. Baru sebentar diaspal, kok sudah ada bagian yang berlubang dan aspalnya mulai mengelupas. Kami yang setiap hari melintas tentu merasa dirugikan,” ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Kamis (1/10/2026).
Kerusakan dini ini membuat masyarakat semakin mempertanyakan kualitas pekerjaan. Terlebih, di tengah warga beredar informasi bahwa anggaran untuk proyek pengaspalan tersebut tidak main-main, yakni disebut-sebut mencapai sekitar Rp100 juta.
“Kabarnya anggaran proyek ini mencapai Rp100 juta. Seharusnya dengan nominal segitu, kualitasnya jauh lebih baik dan tahan lama. Bukan baru selesai dikerjakan sudah begini kondisinya,” tambahnya.
Sorotan warga tidak hanya tertuju pada kualitas fisik jalan, melainkan juga pada transparansi pengelolaan dana. Masyarakat menuntut keterbukaan informasi dari Pemerintah Desa Mangunlegi terkait rincian sumber dana, Rencana Anggaran Biaya (RAB), detail panjang dan lebar jalan yang dikerjakan, ketebalan lapis aspal, spesifikasi material, hingga identitas pihak pelaksana proyek.
“Kami minta pihak desa buka-bukaan dan mau menjelaskan ke publik. Jangan sampai uang habis ratusan juta, tapi hasilnya cuma sekadar jadi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum berhasil mendapatkan konfirmasi resmi dari Pemerintah Desa Mangunlegi maupun pihak pelaksana proyek terkait nilai riil anggaran dan penyebab dini kerusakan jalan tersebut.
Publik kini menanti itikad baik pemerintah desa untuk segera melakukan pengecekan ulang di lapangan dan memberikan penjelasan yang transparan.
Masyarakat menunggu jawaban pasti: apakah kerusakan ini murni akibat faktor alam, kesalahan teknis pengerjaan, atau terdapat indikasi penyimpangan spesifikasi material dari yang dijanjikan.
(TIM/RED)








