Detikdimensi.com Kebumen – Wali siswa penerima Bantuan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sangat mengeluhkan kualitas makanan yang diterima selama bulan puasa.
Salah satu wali siswa penerima bantuan, MN, mengungkapkan kekecewaannya terkait menu MBG yang diterima anaknya dinilai tidak sesuai harga dipasaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Makanan yang diterima tidak sesuai dengan harga yang diberikan. Kami hanya menerima kurang dari Rp 10 ribu per hari. Apa ini yang disebut ‘makan bergizi gratis’? Ini adalah lelucon yang tidak lucu!,” terang MN, Kamis (05/03/2026).
Lanjut, MN mengatakan bahwa makanan yang diterima tidak setiap hari, melainkan digabung selama 3 hari baru dibagikan oleh pihak SPPG, selain itu anaknya juga pernah menerima buah belimbing yang masih mentah dan asam.
“Belimbing yang diberikan masih mentah dan tidak bisa dimakan. Rasanya sangat asam dan tidak pantas untuk dijadikan makanan bergizi. Apakah mereka ingin anak-anak kami makan buah yang belum matang?,” lanjutnya.

AI, wali siswa lainnya, juga mengungkapkan kekecewaannya, bahkan dirinya menganggap makanan ini tidak pantas dibagikan kepada siswa.
“Kami sangat memprihatinkan kondisi ini. Makanan yang dibagikan tidak layak dan harganya sangat jauh dari pasar tradisional di Kebumen. Ini adalah penghinaan terhadap rakyat!,” ungkapnya.
AI meminta kepada bidang pengawasan SPPG di pusat untuk segera melakukan investigasi ke Kabupaten Kebumen.
“Ada dugaan bisnis di balik MBG ini. Mereka hanya ingin meraup keuntungan dan memperkaya diri sendiri. Kami menuntut pengawas pusat untuk turun ke lapangan dan menyelidiki kasus ini!,” ujarnya.
“Kami tidak ingin lagi melihat anak-anak menderita karena makanan yang tidak layak. Masyarakat menuntut keadilan dan transparansi dalam pengelolaan MBG di Kebumen!,” tegasnya.
Selain itu masyarakat juga meminta kepada pemerintah pusat untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap SPPG yang dinilai melanggar aturan dan melakukan korupsi.
“Jangan biarkan rakyat menjadi korban dari ketidakadilan dan korupsi. Kami menuntut keadilan dan kebenaran!,” tutupnya.
Sementara itu, seorang guru di salah satu sekolah di Kebumen TU menuturkan, bahwa dirinya hanya membagikan makanan ke siswa dan tidak mengetahui secara detail tentang proses pengadaan makanan. Ia meminta tim media untuk datang esuk hari supaya dapat bertemu secara langsung dengan sopir pengantar makanan.
“Saya hanya membagikan makanan ke siswa, tidak tahu bagaimana prosesnya, jika ingin lebih jelas silahkan besuk datang ke sekolah dan menanyakan langsung sama sopirnya,” pungkasnya.
(SND)








