Detikdimensi.com Kebumen – Proyek Peternakan terpadu BUMDesma “Manggala Praja” di Desa Kemukus, Kecamatan Gombong, kini menjadi sorotan publik karena kondisinya yang mengenaskan. Fasilitas yang seharusnya menjadi simbol kedaulatan ekonomi bagi 12 desa di Kecamatan Gombong tersebut, kini tampak terbengkalai, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Berdasarkan pantauan tim media dilokasi, aset senilai miliaran rupiah kini menyisakan kandang kosong tanpa satupun ternak. Bahkan peralatan yang mendukung terlihat jelas sudah mulai digerogoti karat dan satu unit kendaraan operasional dibiarkan mangkrak begitu saja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
ST mengungkapkan bahwa modal usaha BUMDesma tersebut terdapat penyertaan modal dari 12 desa dengan dua tahap. Yang pertama sebesar Rp100 juta dan ditahap kedua sebesar Rp50 juta untuk satu desa.
“Seingat saya, sekitar Rp700 juta dialokasikan untuk fisik kandang, pengadaan alat, hingga rumput odot,” terang ST, Selasa (10/03/2026).
Persoalan meruncing pada pengadaan 31 ekor sapi yang didanai bantuan spesifik sebesar Rp500 juta. Hingga saat ini, keberadaan puluhan sapi tersebut menjadi misteri. Informasi yang terhimpun menyebutkan hanya satu ekor sapi yang laku terjual ke jagal seharga Rp3,5 juta dengan alasan sakit. Nasib 30 ekor lainnya? Masih gelap dalam pertanyaan publik.
“Saya tidak tahu kemana larinya 30 ekor sapi itu. Kami sebagai kepala desa belum menerima laporan yang jelas tentang penggunaan dana tersebut,” tambahnya.
Namun, upaya tim media untuk mendapatkan klarifikasi dari pihak pengelola BUMDesma menemui jalan buntu. Saat disambangi ke kantor operasional, Direktur Utama dikabarkan sedang sakit dan tidak dapat dihubungi. Sikap tertutup ini memicu kritik tajam mengenai tanggung jawab moral pengelola dana umat.
Apalagi, hingga Maret 2026, Musyawarah Antar Desa (MAD) untuk laporan tahun buku 2025 belum juga digelar. Padahal, pada akhir 2024, disinyalir masih terdapat sisa dana kas sekitar Rp400 juta. Belum adanya laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang transparan, hal itu memicu spekulasi liar di masyarakat terkait adanya dugaan praktik mal adminstrasi atau penyimpangan dana.
“Saya tidak mengetahui secara detailnya, intinya jika ingin lebih jelas silahkan langsung saja temui ketua pengelola Bumdesma,” tutupnya.
Sebagai Informasi Publik…
Sampai berita ini diterbitkan pihak-pihak terkait belum dapat dikonfirmasi tim media untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Pertanyaan yang belum terjawab:
– Kemana larinya 30 ekor sapi yang dibeli dengan dana Rp500 juta?
– Apakah ada dugaan korupsi atau penyimpangan dana dalam proyek ini?
– Akankah pihak pengelola BUMDesma bertanggung jawab atas kegagalan proyek ini?
Masyarakat Gombong saat ini masih menanti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
(TIM/RED)








