Sorotan Tajam: Publik Desak Mabes Polri Bongkar Dugaan Eksploitasi Pasir Putih Ilegal di Kebumen

- Redaksi

Kamis, 2 Juli 2026 - 00:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikdimensi.com Kebumen – Gelombang protes masyarakat terhadap aktivitas penambangan pasir putih kian mengeras. Pemicunya adalah viralnya dokumentasi lapangan yang menunjukkan operasi alat berat di kawasan perbukitan setempat, yang diduga kuat dilakukan tanpa izin resmi (Pertambangan Tanpa Izin/PETI) yang berada di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten kebumen.

 

Tekanan kini tidak lagi hanya tertuju pada aparat lokal, melainkan telah merambat hingga ke tingkat nasional. Publik dan lembaga swadaya masyarakat mendesak Markas Besar (Mabes) Polri untuk turun tangan langsung, menghentikan operasional, dan mengusut tuntas jaringan distribusi material yang dikabarkan diekspor keluar wilayah Kebumen.

ADVERTISEMENT

Ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Viralitas Bukti Lapangan dan Tuduhan “Perusakan Sistematis”

 

Isu ini mencuat setelah Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Kresna Cakra Nusantara mengunggah serangkaian foto dan video aktivitas tambang di media sosial. Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral, memicu diskusi luas mengenai kerusakan lingkungan di Kebumen.

 

Dalam narasinya, LPKSM menyoroti penggunaan alat berat berukuran besar—yang disebut sebagai “gajah besi”—dan beroperasi secara masif untuk mengeruk material pasir putih atau kuarsa. Frasa “mutiara putih dari gunung” digunakan untuk menggambarkan nilai ekonomi material tersebut, namun dibarengi dengan adanya proses pengambilannya merusak struktur geologi gunung.

 

“Dugaan tak berizin galian C, mutiara putih dari gunung Desa Kalibening… ekspor keluar Kebumen, gajah besi ngerusak gunung,” tulis akun tersebut dalam unggahan yang memicu kemarahan warganet.

 

Konten visual yang disertakan menunjukkan lereng bukit yang telah terkelupas, serta jalur transportasi truk-truk bermuatan berat yang melintas di pemukiman warga. Hal ini memperkuat dugaan adanya rantai pasok komersial skala besar, bukan sekadar aktivitas penambangan tradisional skala kecil.

Baca Juga :  Wakapolres Kebumen Cek Kondisi Tahanan di Rutan Polres

 

Tuntutan Penindakan Tegas: “Jangan Tunggu Bencana Dulu”

 

Sugiyono, perwakilan Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Kabupaten Kebumen, menyuarakan keprihatinan mendalam atas lambannya respons terhadap indikasi pelanggaran hukum ini. Ia menilai bahwa keberadaan alat berat di area sensitif seperti lereng bukit adalah bom waktu bagi keselamatan warga.

 

“Saya meminta dinas terkait dan aparat kepolisian, khususnya Mabes Polri, segera melakukan penindakan di lapangan,” ungkapnya, Kamis (2/7/2026).

 

“Tidak ada alasan untuk menunda. Oknum yang terlibat harus diberikan efek jera sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia,” tegasnya.

 

Sugiyono menekankan bahwa kerugian negara dari aktivitas ilegal ini bersifat ganda: hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan, serta biaya pemulihan lingkungan yang akan jauh lebih mahal jika terjadi bencana.

 

“Apabila ada sesuatu yang tidak diinginkan, siapa yang akan bertanggung jawab? Kami meminta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit segera memerintahkan jajaran untuk mengungkap kasus ini,” imbuhnya.

 

“Ini harus menjadi pembelajaran bersama bahwa merusak alam demi keuntungan sesaat adalah tindakan yang merugikan negara dan membahayakan nyawa warga sekitar,” tandas Sugiyono.

 

Ancaman Ekologis: Erosi, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

 

Dari sisi teknis lingkungan, masyarakat Kebumen menyatakan bahwa kontur tanah di lokasi tambang sangat rentan terhadap erosi. Aktivitas penggalian yang mengubah topografi alami dikhawatirkan dapat memutus mata air, mengubah pola aliran permukaan, dan meningkatkan risiko longsor saat curah hujan tinggi.

Baca Juga :  Insan Pers dan APH Bersatu, SMSI Jateng Dorong Sinergi Kuat Polri, TNI dan Pemerintah

 

Selain ancaman bencana alam, dampak sosial-ekonomi juga dirasakan langsung. Seperti kondisi jalan desa yang rusak parah akibat dilalui truk-truk pengangkut material berbobot tonase tinggi. Debu tebal yang dihasilkan dari aktivitas penggalian dan pengangkutan juga dilaporkan mengganggu kesehatan pernapasan warga, terutama anak-anak sekolah dan lansia.

 

“Kami tidak keberatan dengan pembangunan, tapi kami menuntut keamanan dan kenyamanan. Saat ini, kami hidup dalam ketakutan disaat musim penghujan datang karena melihat lereng di atas kami sudah ‘botak’ digali alat berat,” keluh salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir terhadap intimidasi.

 

Dasar Hukum yang Dilanggar: UU Minerba dan UU Lingkungan Hidup

 

Secara yuridis, aktivitas tersebut berpotensi melanggar sejumlah peraturan perundang-undangan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, setiap kegiatan eksplorasi dan eksploitasi mineral bukan logam dan batuan (termasuk pasir dan kerikil) wajib memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

 

Kegiatan yang dilakukan tanpa izin merupakan tindak pidana yang dapat diancam dengan hukuman penjara dan denda miliaran rupiah. Selain itu, jika aktivitas tersebut terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan, pelaku juga dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang mewajibkan pelaku untuk melakukan pemulihan lingkungan (reklamasi) dan membayar ganti rugi.

Baca Juga :  Polda Jatim Gelar Pelatihan Integritas, Perkuat Komitmen Anti Korupsi di Internal Polri

 

Menunggu Respons Aparat: Uji Integritas Penegakan Hukum

 

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak pengelola lokasi tambang, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.

 

Keheningan ini justru semakin memicu spekulasi publik mengenai adanya pembiaran atau keterlibatan oknum tertentu. Oleh karena itu, desakan agar Mabes Polri, Polda Jawa Tengah, dan Polres Kebumen berkoordinasi dengan Dinas ESDM menjadi kian mendesak.

 

Publik menuntut tiga langkah konkret:

1. Penghentian Segera: Moratorium aktivitas penggalian dan pengangkutan sampai kejelasan status izin diperoleh.

2. Investigasi Transparan: Pemeriksaan menyeluruh terhadap dokumen perizinan, asal-usul alat berat, dan tujuan akhir pengiriman material (“ekspor” keluar Kebumen).

3. Pemulihan Lingkungan: Jika ditemukan pelanggaran, wajib ada komitmen restorasi lahan yang rusak.

 

Praduga Tak Bersalah dan Hak Jawab

 

Sebagai media yang menjunjung tinggi profesionalisme, redaksi menegaskan bahwa pemberitaan ini didasarkan pada fakta lapangan dan analisis regulasi yang berlaku. Sesuai dengan Asas Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence) dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, status “ilegal” atau “pelaku kejahatan” baru dapat ditetapkan secara sah melalui putusan pengadilan setelah melalui proses penyelidikan dan penyidikan yang lengkap.

 

Penegakan hukum yang adil, transparan, dan akuntabel adalah kunci untuk menjawab keresahan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan Kebumen untuk generasi mendatang.

 

 

(TIM)

Berita Terkait

Rencana Aksi Dukungan Pemerintah di Jakarta: Antara Klaim Aspirasi Warga Kebumen dan Kritik Pedas di Media Sosial
HUT ke-7 Media Lensa Polri, Momentum Berbagi dan Peduli Bersama Anak Yatim
Galian Tanah Berkedok “Normalisasi” di Sruweng Kebumen, Publik: Pemkab dan APH Dituntut Tegas!
Kirab Gunungan Jaler Estri Semarakkan Maulid Nabi, Babinsa Taman Pastikan Kegiatan Berjalan Aman
Korban Pencurian Tetap Diproses melalui Rekayasa Hukum, Suara DPR RI Tak Dianggap?
Lawan Kriminalisasi Ko Ilma Fiela Sari, Koalisi Organisasi Perempuan Mengadu ke Komnas Perempuan
Babinsa Koramil 10/Sine dan Warga Sigap Padamkan Kebakaran Lahan Jati di Ploso Kerep
Anjangsana Polwan Polres Ngawi, Pererat Silaturahmi di Hari Jadi Polwan ke-78
Berita ini 92 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 00:23 WIB

Rencana Aksi Dukungan Pemerintah di Jakarta: Antara Klaim Aspirasi Warga Kebumen dan Kritik Pedas di Media Sosial

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:42 WIB

HUT ke-7 Media Lensa Polri, Momentum Berbagi dan Peduli Bersama Anak Yatim

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Galian Tanah Berkedok “Normalisasi” di Sruweng Kebumen, Publik: Pemkab dan APH Dituntut Tegas!

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:26 WIB

Kirab Gunungan Jaler Estri Semarakkan Maulid Nabi, Babinsa Taman Pastikan Kegiatan Berjalan Aman

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:40 WIB

Korban Pencurian Tetap Diproses melalui Rekayasa Hukum, Suara DPR RI Tak Dianggap?

Berita Terbaru