Menghidupkan Kembali Roh Kebangsaan Melalui “Holopis Kuntul Baris”

- Redaksi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikdimensi.com Jakarta – Di tengah laju modernitas dan arus individualisme yang kian mengikis nilai-nilai luhur Nusantara, kehadiran buku Holopis Kuntul Baris: Jiwa Persatuan yang Mulai Dilupakan karya Iwenk MJC menjadi sebuah oase intelektual sekaligus alarm spiritual bagi bangsa Indonesia. Karya Iwenk ini diterbitkan di bawah naungan penerbit Nawasena Mediaksara Utama pada tahun 2026. Buku dengan nomor ISBN 978-623-10-1234-5 ini bukan sekadar lembaran kertas, ia adalah sebuah manifesto kebudayaan yang berusaha membongkar ulang esensi gotong-royong, Pancasila, UUD 1945, serta masa depan peradaban Indonesia.

 

Secara etimologis dan historis, istilah “Holopis Kuntul Baris” merekam jejak ritme kerja kolektif masyarakat Jawa tempo dulu. Frasa itu sering kali menjadi yel-yel penyemangat saat menarik beban berat bersama-sama. Buku ini menegaskan bahwa ungkapan tersebut melampaui makna teriakan mekanis. Ia merepresentasikan burung kuntul (bangau putih) yang terbang bermigrasi dalam formasi barisan yang rapi, searah, dan saling memecah angin demi meringankan beban satu sama lain.

ADVERTISEMENT

Ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Filosofi ini berkelindan erat dengan gagasan para pemikir besar. Dalam ranah filsafat barat, Aristoteles pernah menelurkan diktum terkenal bahwa manusia adalah zoon politikon – makhluk yang secara alamiah mendambakan hidup bermasyarakat. Kesendirian adalah anomali bagi kemanusiaan.

Baca Juga :  Kosta Rika Dukung Rencana Otonomi Sahara Maroko di Bawah Kedaulatan Maroko

 

Selaras dengan itu, filsuf eksistensialis sekelas Jean-Paul Sartre (1905-1980), meski akrab dengan tema alienasi individu, secara tidak langsung menekankan bahwa tindakan personal selalu berdampak pada wajah kemanusiaan secara kolektif. Di Indonesia, Sukarno mengkristalisasi seluruh falsafah Pancasila ke dalam satu kata kunci yang kokoh: gotong royong. Gotong royong adalah pola kerja banting-tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama demi kepentingan bersama.

 

Kehadiran karya ini mendapat sambutan hangat sekaligus refleksi mendalam dari berbagai tokoh lintas sektoral di tanah air. Wilson Lalengke, seorang tokoh pers dan pendidik yang vokal, memberikan dukungan penuh terhadap penerbitan buku ini. Alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu menyatakan bahwa karya literatur seperti ini sangat krusial bagi generasi muda yang kian terasing dari akar budayanya sendiri.

 

Untuk itu, Wilson Lalengke berharap Holopis Kuntul Baris tidak hanya berhenti sebagai pajangan di perpustakaan dan tau toko buku. Karya penting ini semestinya diangkat menjadi bacaan wajib (required reading) di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia guna merevitalisasi karakter kebangsaan sejak dini.

 

Dukungan serupa mengalir deras dari kalangan ulama dan pengasuh pondok pesantren. Abuya Muhtadi, pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul ‘Ulum Cidahu, menegaskan, “Gotong royong bukan hanya bekerja bersama, tetapi menyatukan hati demi kebaikan bersama. Holopis Kuntul Baris adalah jiwa persatuan yang menghidupkan kekuatan bangsa.” Senada dengan beliau, K.H. Junaedi Al-Baghdadi menyatakan bahwa bersama-sama kita tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mengubah peradaban.

Baca Juga :  Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga

 

Sementara itu, KH Ahmad Muwafig dari Yogyakarta mengingatkan bahwa Nusantara dibangun dari keberagaman yang bersatu, dan KH. Amin Maulana Budi Harjono dari Semarang menggarisbawahi bahwa ketika perbedaan disatukan dalam hati yang tulus, bangsa ini akan berdiri kokoh menghadapi tantangan zaman.

Dari perspektif sosiokultural dan akademis, Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., seorang pakar pendidikan dan budayawan, menjabarkan analogi visual burung kuntul tersebut secara apik. Beliau berpendapat bahwa dalam barisan burung kuntul yang terbang, tidak ada yang mendahului secara egois dan tidak ada yang tertinggal.

 

Semuanya bergerak bersama secara harmonis. M. Izzul Islam An Najmi, S.Ag., M.Ag., dosen UIN Syarif Hidayatullah, turut menambahkan bahwa kekuatan terbesar bangsa ini justru terletak pada persatuan hati dan kerja bersama demi mengutamakan kepentingan publik di atas golongan. KH Nuril Arifin Husein (Gus Nuril) pun menyerukan hal serupa: yel-yel ini adalah warisan leluhur yang mengubah kita menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Baca Juga :  Kapolres Ngawi Hadiri Jamasan dan Kirab Pusaka, Wujud Sinergi Lestarikan Budaya di Hari Jadi Ngawi ke-668

 

Representasi organisasi keagamaan terbesar Indonesia diwakili oleh Savic Ali, Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi. Ia menguraikan, “Holopis Kuntul Baris adalah cermin jiwa kolektif bangsa kita. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari individu yang berjalan sendiri, tetapi dari barisan yang rapat, tegak, dan searah.”

 

Di sisi lain, dunia seni juga tidak ketinggalan bersuara. Erros Djarot, maestro legendaris Indonesia, menyebut filosofi ini sebagai napas jiwa bangsa yang mengajarkan keberanian dan pengorbanan. Artis komedian Gus Memed serta penyanyi religi religi Aunur Rofiq Lil Firdaus (Opick) ikut mengajak masyarakat untuk tetap guyub dan rukun, menjadikan gotong royong sebagai laku ibadah sehari-hari demi kemajuan bangsa.

 

Buku ini pada akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan mutlak: bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang berjalan sendirian, melainkan bangsa yang bergerak bersama. Di sinilah urgensi refleksi yang ditawarkan oleh Iwenk MJC melalui lembar demi lembar karyanya. Membaca Holopis Kuntul Baris berarti melakukan perjalanan pulang menuju jati diri sejati Indonesia, sebuah persiapan esensial dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.

 

(TIM/RED)

Berita Terkait

Seruan Wilson Lalengke di Forum Keamanan Militer Global: Penghentian Konflik Rusia-Ukraina adalah Keharusan
Buntut Intimidasi Ruang Redaksi, Wilson Lalengke Seret Kuasa Hukum Martin Tampubolon ke Mabes Polri
Di Tengah Gelombang Kredit Macet, Win Suwarto, S.Sy, MBS Tawarkan Jalan Keluar Hukum bagi Debitur
Kontraktor Proyek Sarung Tangan Kebumen Bermasalah: Rekanan Keluhkan Invoice Macet dan Cek BNI Tak Bisa Dicairkan
Status Lahan MI Ma’arif Babadsari: Pemdes Tegaskan Aset Desa, Warga Minta Transparansi
Proyek Pabrik Sarung Tangan Kebumen Diguncang Dugaan Tunggakan Upah, Arus Dana Proyek Ikut Dipertanyakan?
Kapolres Ngawi Hadiri Jamasan dan Kirab Pusaka, Wujud Sinergi Lestarikan Budaya di Hari Jadi Ngawi ke-668
Polres Kebumen Salurkan Perlengkapan Sekolah untuk 15 Pelajar di Prembun
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:57 WIB

Seruan Wilson Lalengke di Forum Keamanan Militer Global: Penghentian Konflik Rusia-Ukraina adalah Keharusan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:54 WIB

Menghidupkan Kembali Roh Kebangsaan Melalui “Holopis Kuntul Baris”

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:50 WIB

Buntut Intimidasi Ruang Redaksi, Wilson Lalengke Seret Kuasa Hukum Martin Tampubolon ke Mabes Polri

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:44 WIB

Di Tengah Gelombang Kredit Macet, Win Suwarto, S.Sy, MBS Tawarkan Jalan Keluar Hukum bagi Debitur

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:46 WIB

Kontraktor Proyek Sarung Tangan Kebumen Bermasalah: Rekanan Keluhkan Invoice Macet dan Cek BNI Tak Bisa Dicairkan

Berita Terbaru