Detikdikenai.com Wonosobo – Polres Wonosobo menggandeng tim survei Patron dari Universitas Indonesia untuk memetakan persoalan kemacetan di jalur wisata Dieng. Langkah ini dilakukan sebagai upaya kepolisian menyusun kebijakan pengaturan lalu lintas berbasis data, terutama menghadapi lonjakan kendaraan pada hari libur dan long weekend.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari Forum Group Discussion (FGD) “Dieng Lancar, Wisata Nyaman” yang digelar Polres Wonosobo di Aula Endra Dharma Laksana, Kamis, 20 Agustus 2026. Forum ini mempertemukan kepolisian, pemerintah daerah, dan akademisi untuk merumuskan langkah mitigasi kemacetan di kawasan wisata Dieng.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja mengatakan penanganan kemacetan tidak cukup hanya mengandalkan rekayasa lalu lintas ketika kepadatan terjadi. Kepolisian membutuhkan data dan kajian untuk memastikan kebijakan yang diterapkan sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.
“Untuk membuat kebijakan berdasarkan data dan keadaan di lapangan, kami mendatangkan tim survei Patron dari Universitas Indonesia agar permasalahan kemacetan di jalur wisata Dieng dapat dimitigasi,” kata Ricky.
Polres Wonosobo selama ini telah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Pada hari libur dan long weekend, personel Satlantas disiagakan mulai pukul 04.00 WIB untuk mengantisipasi kepadatan sejak pagi. Polisi juga menyiapkan ganjal dan mobil derek untuk menangani kendaraan yang mogok atau tidak kuat menanjak, terutama pada ruas dengan kemiringan sekitar 15 persen.
Menurut pemetaan Satlantas, karakteristik jalur Dieng menjadi salah satu faktor yang membuat kepadatan mudah terjadi. Jalan yang sempit dan berkelok, tanjakan dan turunan, kondisi berkabut serta licin, keterbatasan lahan parkir, hingga aktivitas kendaraan keluar-masuk objek wisata membuat arus lalu lintas rentan tersendat.
Kondisi tersebut diperparah oleh volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas lahan parkir. Kendaraan yang tidak kuat menanjak, mengalami overheat atau berhenti di badan jalan juga berpotensi memicu kemacetan berantai.
Dalam FGD, akademisi Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) turut memaparkan sejumlah persoalan dan alternatif penanganan. Salah satunya, volume kendaraan menuju kawasan wisata dinilai telah melebihi kapasitas lahan parkir yang tersedia. Kondisi jalan yang sempit, tanjakan dan turunan, keberadaan pasar serta aktivitas masyarakat turut memperbesar potensi kepadatan.
Akademisi juga menyoroti belum terealisasinya pelebaran jalan sebagai salah satu persoalan infrastruktur. Karena itu, diperlukan alternatif penanganan, antara lain penyediaan transportasi khusus bagi wisatawan, pembangunan kantong parkir terpadu serta penerapan strategi berbasis teknologi untuk mendukung pengaturan arus kendaraan.
Masukan tersebut menjadi bagian dari bahan kajian lintas sektoral yang didorong Polres Wonosobo. Pelibatan Patron UI diharapkan dapat memberikan pendekatan berbasis data dan kajian akademis dalam menentukan titik rawan, pola pergerakan kendaraan, serta strategi mitigasi yang lebih terukur.
Bagi Polres Wonosobo, upaya tersebut merupakan bagian dari pergeseran pola penanganan kemacetan dari sekadar respons saat kepadatan terjadi menjadi mitigasi yang disiapkan sejak awal. Dengan dukungan kajian akademis, pengaturan personel di lapangan, serta sinergi dengan pemerintah daerah, kepolisian berupaya menjaga jalur wisata Dieng tetap aman, lancar, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
(TIM/RED)








