Kekerasan Guru di Kebumen: Murid Mengalami Gegar Otak dan Dirawat di Rumah Sakit

- Redaksi

Selasa, 24 Februari 2026 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kekerasan Guru di Kebumen: Murid Mengalami Gegar Otak dan Dirawat di Rumah Sakit

 

 

ADVERTISEMENT

Ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Kebumen – Seorang guru olahraga disalah satu sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Prembun berinisial “H” diduga melakukan tindak kekerasan terhadap muridnya Bunga (nama samaran) duduk dikelas 5 MI/SD, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

 

Kejadian tersebut terjadi pada Senin, 19 Januari 2026, saat jam pelajaran olahraga. Orang tua korban, AI menyampaikan, bahwa anaknya dibawa ke Puskesmas terdekat untuk berobat jalan setelah kejadian tersebut, namun kondisinya malah semakin parah.

 

Setelah ada kejadian itu saya membawa Bunga ke Puskesmas untuk berobat jalan. Tetapi bukannya sembuh malah anak kami semakin hari semakin parah,” terang AI saat dikonfirmasi tim media, Selasa (24/02/2026).

Lanjut AI bahwa anaknya tidak dapat bersekolah karena masih mengalami pusing di kepalanya.

 

“Sampai sekarang bunga tidak dapat sekolah, menurut pengakuan anak saya itu masih mengalami pusing di kepalanya,” lanjutnya.

Baca Juga :  Pengukuhan Pengurus  Perwakilan Wilayah Provinsi Banten Media Lensa polri

 

Lalu AI menuturkan, setelah tidak ada perubahan kesembuhan anaknya, akhirnya pada Sabtu 21, Februari 2026 keluarga sepakat membawa bunga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prembun untuk rawat inap agar mudah pemeriksaan lebih lanjut.

 

“Karena tidak ada perubahan kami membawa bunga ke RSUD Prembun untuk mengetahui penyakitnya. Namun sudah 4 hari ini belum ada tanda-tanda kesembuhan,” tuturnya.

 

Sementara itu, paman korban, SR, menuntut agar “H” oknum guru olahraga tersebut bertanggungjawab atas perbuatannya dan membiayai pengobatan Bunga sampai sembuh.

 

“Guru tersebut harus bertanggungjawab atas perbuatannya dan membiayai pengobatan ponakan saya sampai sembuh seperti sedia kala,” tegasnya.

 

Lalu SR juga berharap agar “H” oknum guru olahraga harus dihukum seberat-beratnya sebagai pembelajaran atas perbuatannya yang sudah melakukan tindak kekerasan terhadap keponakannya.

 

“Kami berharap kepada aparat kepolisian untuk menindak tegas oknum guru tersebut dan mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku,”

 

“Saat kami tanyakan ke dokter untuk hasil sementara Bunga mengalami “Pembengkakan di otaknya”, menurut keterangan dokternya,” imbuhnya.

Baca Juga :  Menjelang HUT ke-6, Pimpinan Redaksi Lensa Polri Tekankan Pentingnya Solidaritas Antar Insan Media

 

Terpisah, saat tim media mendatangi sekolah tersebut, “H” sudah tidak berada di tempat. Kepala Sekolah, Sri Nur Hidayati, mengatakan bahwa guru olahraga yang tersebut sudah pulang karena jam mengajar di sekolah hanya sampai pukul 11.00 WIB.

 

“Beliau sudah pulang dari tadi, karena jam mengajar hanya sampai pukul 11.00 wib,” jelasnya.

 

Namun, ketika ditanya tentang kebenaran kekerasan yang dilakukan oleh “H”oknum guru olahraga, Sri Nur Hidayati membantah bahwa kekerasan tersebut terjadi. Ia mengatakan bahwa “H” hanya mengajarkan cara menangkap bola dan bukan melakukan kekerasan.

 

“Guru olahraga hanya mengajarkan cara untuk menangkap bola, bukan di Smash ke muridnya. Disini ada guru yang menyaksikan saat kejadian,” kata Sri Nur Hidayati.

 

Namun, pihak sekolah mengakui bahwa sampai saat ini mereka belum pernah menjenguk murid yang menjadi korban kekerasan tersebut di rumah sakit. Mereka berencana akan menjenguk setelah murid tersebut pulang dan berada di rumah.

Baca Juga :  ADV Umi Fitriyati, S.H., dan Sugiyono, S.H., Surati Kantor BFI Finance Cabang Kebumen

 

“Memang selama ini pihak sekolah belum menjenguk Bunga, rencana kami bareng-bareng akan melihat setelah dia pulang dari Rumah Sakit,” pungkas Sri Nur Hidayati.

 

Sementara itu, orang tua murid masih menuntut agar guru tersebut diberikan sanksi tegas atas perbuatannya. Mereka juga meminta agar pihak sekolah lebih transparan dan bertanggung jawab dalam menangani kasus ini.

 

Sebagai Informasi Publik….

 

Pasal 80 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengatur sanksi pidana bagi pelaku kekerasan terhadap anak (pasal 76C). Pelaku dapat dipidana penjara maksimal 3,5 tahun (denda Rp72 juta), 5 tahun jika luka berat (denda Rp100 juta), atau 15 tahun jika anak mati (denda Rp3 miliar).

 

Sanksi bagi Pendidik yang Melakukan Kekerasan pada Murid

Pasal 80: (1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan.

 

 

(SND)

Berita Terkait

Putusan PN Tilamuta Picu Reaksi Publik, Dugaan Mafia Tanah Desa Molombulahe Kembali Mengemuka
Sidak Tambang Sayutan, DPRD dan ESDM Jatim Sepakat Dorong Penghentian Sementara Aktivitas Penambangan
Klirong Geger: Warga Tuntut Usut Tuntas, Takut Pelaku “Beli” Keadilan atas Kekerasan Seksual Anak
Mengapa ‘Ijasah Jokowi’ Jadi Taruhan Moral Bangsa? Wilson Lalengke Bawa Plato dan Kant untuk Uji Kejujuran Indonesia
Sengketa Tanah di Rote Ndao: Seruan Moral untuk Keadilan dan Pelayanan Publik
Unit PPA Polres Kebumen Menang Praperadilan, Masyarakat Apresiasi Profesionalisme Penyidik
Intimidasi Wartawan KabarSBI.com Disorot Nasional, SPRI dan PPWI Minta Pelaku serta Aktor Intelektual Segera Dibekuk
Jaringan Kurir Sabu Lintas Kota Diamankan Polres Kebumen Berikut Barang Bukti Seberat 61,777 Gram
Berita ini 664 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:03 WIB

Putusan PN Tilamuta Picu Reaksi Publik, Dugaan Mafia Tanah Desa Molombulahe Kembali Mengemuka

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:07 WIB

Sidak Tambang Sayutan, DPRD dan ESDM Jatim Sepakat Dorong Penghentian Sementara Aktivitas Penambangan

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:04 WIB

Klirong Geger: Warga Tuntut Usut Tuntas, Takut Pelaku “Beli” Keadilan atas Kekerasan Seksual Anak

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:04 WIB

Mengapa ‘Ijasah Jokowi’ Jadi Taruhan Moral Bangsa? Wilson Lalengke Bawa Plato dan Kant untuk Uji Kejujuran Indonesia

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:01 WIB

Sengketa Tanah di Rote Ndao: Seruan Moral untuk Keadilan dan Pelayanan Publik

Berita Terbaru