Harmoni Alam dan Budaya: Warga Tanggulangin Klirong Gelar ‘Memetri Bumi dan Sedekah Laut’ demi Kesejahteraan Nelayan serta Petani

- Redaksi

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikdimensi.com Kebumen – Di tengah deburan ombak Pantai Urut Sewu, ratusan warga Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, kembali menyatukan langkah dalam sebuah ritual sakral. Pada Rabu (15/7/2026), mereka menggelar tradisi tahunan “Memetri Bumi dan Sedekah Laut”. Bukan sekadar seremoni, acara ini merupakan manifestasi rasa syukur mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dari daratan dan lautan, sekaligus doa kolektif agar harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga.

 

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari di Pendopo Balai Desa Tanggulangin, sebelum berpuncak pada prosesi larung sesaji “Gunungan” di Pantai Urut Sewu atau yang lebih dikenal warga setempat sebagai Pantai Tanggulangin. Seluruh aktivitas dipusatkan di Kawasan Destinasi Wisata Pesisir (kawasan KDMP) desa setempat, yang sekaligus menjadi upaya memperkenalkan potensi wisata alam daerah tersebut.

ADVERTISEMENT

Ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Kehadiran unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, menandakan bahwa tradisi ini bukan hanya milik segelintir orang, melainkan identitas bersama masyarakat pesisir Kebumen.

Kepala Desa Tanggulangin, Kasimin, menyampaikan bahwa “Memetri Bumi dan Sedekah Laut” bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan warisan leluhur yang memiliki nilai filosofis tinggi. Istilah “Memetri” sendiri bermakna menjaga, merawat, atau melestarikan. Dalam konteks ini, warga berjanji untuk merawat bumi (lahan pertanian) dan laut (sumber daya perikanan) agar keduanya tidak rusak dan terus memberikan kehidupan.

 

“Alhamdulillah, hari ini kita dapat melaksanakan Memetri Bumi dan Sedekah Laut. Ini adalah warisan leluhur yang wajib kita jaga sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada alam ciptaan Tuhan,” ungkap Kasimin kepada tim media Detikdimensi.com.

 

Kasimin menjelaskan bahwa inti dari seluruh rangkaian acara adalah permohonan keselamatan dan keberkahan. Doa-doa yang dilantunkan secara khusus ditujukan untuk dua kelompok profesi utama penopang ekonomi desa: petani dan nelayan.

Baca Juga :  Patroli Malam Ditingkatkan, Polres Magetan Antisipasi Gangguan Kamtibmas Selama Bulan Suro

 

“Kami memohon agar bumi Desa Tanggulangin dijaga dari segala bentuk bencana alam. Bagi para petani, diberikan kelancaran dalam bercocok tanam agar panen raya selalu datang. Sementara bagi para nelayan juga diberikan perlindungan saat melaut, keselamatan jiwa, serta hasil tangkapan ikan yang melimpah ruah untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” jelasnya rinci.

 

Bagi Kasimin, pelestarian tradisi ini adalah kunci ketahanan sosial dan ekonomi desa. Ia berharap generasi muda tidak memandang tradisi ini sebagai hal kuno, melainkan sebagai kearifan lokal yang relevan dengan prinsip konservasi lingkungan modern.

 

“Berharap tradisi ini tidak putus. Justru harus kita lestarikan dan kembangkan agar anak cucu kita memahami filosofi hidup berdampingan dengan alam. Jika alam dijaga, maka alam akan menjaga kita,” tegasnya.

 

Puncak acara berlangsung khidmat di Pantai Urut Sewu. Setelah doa bersama di balai desa, ratusan peserta bergerak beriringan menuju bibir pantai membawa aneka sesaji. Sesaji tersebut biasanya berisi hasil bumi seperti umbi-umbian, buah-buahan, serta makanan khas daerah yang dimasak dengan penuh doa.

 

Namun, saat momen prosesi larungan tahun ini terasa semakin istimewa dengan hadirnya sejumlah pejabat tinggi daerah. Bupati Kebumen, H. Lilis Nuryani, tampak turut berbaur dengan masyarakat. Beliau didampingi oleh beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yang juga menyempatkan diri hadir untuk menyaksikan langsung jalannya ritual.

 

Tidak hanya jajaran eksekutif kabupaten, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Klirong juga hadir lengkap, menunjukkan dukungan penuh pemerintah tingkat kecamatan terhadap pelestarian budaya lokal. Kehadiran mereka disambut hangat oleh warga, menandakan adanya sinergi kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga tradisi.

 

Turut hadir pula Camat Klirong Eko Purwanto, perwakilan dari Kawasan Destinasi Wisata Pesisir (KDMP) Tanggulangin. Kedatangan Eko menegaskan komitmen pengelola kawasan wisata untuk terus mendukung event budaya sebagai daya tarik utama pariwisata Desa Tanggulangin.

Baca Juga :  Resmi Sandang Pangkat Prada, 814 Prajurit Baru Siap Tempuh Pendidikan Lanjutan

 

Prosesi larungan menjadi momen paling dinanti. Warga secara simbolis mengembalikan sebagian rezeki yang mereka peroleh kembali ke laut. Ini bukan tindakan pemborosan, melainkan bentuk “sedekah” atau terima kasih kepada Sang Pencipta melalui medium alam.

 

“Setelah doa bersama, kita lanjutkan dengan Larungan di Pantai Urut Sewu. Itu adalah bentuk simbolis kita mengembalikan dan bersedekah kepada laut. Kita mengambil dari laut, maka kita juga harus memberi kembali sebagai tanda terima kasih,” kata Kasimin.

 

Suasana di pantai tampak haru namun penuh harapan. Para nelayan dan masyarakat memanjatkan doa-doa meminta izin kepada “penunggu” laut agar aktivitas melaut ke depan diberikan kemudahan. Bagi banyak warga, ritual ini adalah cara spiritual untuk menenangkan hati sebelum menghadapi ketidakpastian alam.

 

Terpisah, di balik nilai spiritualnya, tradisi ini juga berfungsi sebagai perekat solidaritas sosial. Salah satu warga Desa Tanggulangin, berinisial S, mengaku telah mengikuti acara ini sejak dini hari. Baginya, kehadiran tetangga, kerabat, perangkat desa, hingga pejabat daerah dalam satu barisan doa memberikan rasa tenang (adem) yang sulit dicari di tempat lain.

 

“Saya ikut dari awal doa sampai larungan. Rasanya adem sekali. Kami sebagai warga pesisir memang menggantungkan hidup sepenuhnya dari laut dan sawah. Tidak ada jaminan pasti kapan ikan datang atau kapan hujan turun untuk padi. Jadi, acara ini adalah pengikat hati kami,” ucapnya.

 

Ia menyampaikan harapan sederhana namun mendalam. Ia menginginkan agar kondisi ekonomi warga pesisir semakin membaik pasca-acara ini.

 

“Harapan kami sederhana. Semoga para petani dan nelayan lokal bisa mengais rezeki lebih lancar. Hasil tangkapan ikan melimpah ruah, harga stabil, dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak,” tambahnya.

 

Ia juga menitipkan pesan kepada pemerintah daerah dan pusat agar terus mendukung pelestarian budaya lokal semacam ini. Menurut S, dukungan tidak harus selalu berupa materi besar, tetapi bisa berupa fasilitas atau pengakuan resmi yang membuat warga bangga terhadap identitas budayanya.

Baca Juga :  Publik Desak Menimipas dan Kapolri Bongkar Dugaan Jaringan Narkoba Dalam Lapas Purwokerto

 

“Kalau tradisi seperti ini terus dijaga, insyaallah desa kita berkah. Lautnya aman, tanahnya subur, dan warganya rukun. Kerukunan ini modal utama kami,” pungkasnya.

 

Kehadiran mahasiswa KKN dari UPN “Veteran” Yogyakarta memberikan warna baru dalam tradisi tahun ini. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi terlibat aktif dalam dokumentasi, pengaturan lalu lintas peserta, hingga ikut serta dalam prosesi larung.

 

Bagi para mahasiswa, ini adalah kesempatan emas untuk mempelajari kearifan lokal secara langsung (experiential learning). Mereka belajar bahwa pembangunan desa tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan karakter masyarakat melalui budaya.

 

Interaksi antara warga senior dan mahasiswa muda menunjukkan adanya transfer pengetahuan antar-generasi. Warga senior mengajarkan makna filosofis setiap gerakan dalam ritual, sementara mahasiswa membantu mendokumentasikan proses tersebut agar bisa dipelajari oleh khalayak yang lebih luas melalui media digital.

 

Tradisi “Memetri Bumi dan Sedekah Laut” di Desa Tanggulangin mengingatkan kita bahwa di era modernisasi yang serba cepat, manusia tetap membutuhkan momen untuk berhenti, bersyukur, dan introspeksi diri terhadap alam.

 

Bagi masyarakat Kebumen, khususnya di wilayah pesisir Klirong, laut dan tanah bukan sekadar sumber daya ekonomi yang dieksploitasi, melainkan mitra hidup yang harus dihormati. Melalui ritual ini, warga mengirimkan pesan kuat: kesejahteraan sejati hanya bisa dicapai ketika manusia hidup selaras dengan alam, didukung oleh kerukunan sosial dan kepatuhan spiritual.

 

Semoga doa-doa yang dilantunkan di Pantai Urut Sewu pada hari ini menjadi kabar baik bagi masa depan pertanian dan perikanan di Kabupaten Kebumen.

 

(SND)

Berita Terkait

Mobil Parkir Dua Hari di Jalur Sepeda Depan DPRD Kebumen, Picu Polemik Publik: Dugaan Pelanggaran Lalu Lintas!
Gerak Cepat, Babinsa Paron dan Damkar Padamkan Kebakaran Rumah Warga Akibat Korsleting Listrik
Warung Kompas Presisi Polres Ngawi, Berbagi Makan Gratis Dan Serap Aspirasi Warga
Lahan Perhutani di Karanggayam Kebumen Terbakar, Api Dipadamkan Manual
Kapolres Kebumen Bantu Perlengkapan Sekolah 15 Siswa di Sempor
Aksi Sigap Personel TNI-Polri di Magetan Bersihkan Pohon Tumbang demi Kelancaran Lalu Lintas
Gerakan Indonesia Asri Sasar TMP Yudhonegoro, Kodim 0804/Magetan Bersama Lintas Instansi Wujudkan Kepedulian Lingkungan
Dukung Makan Bergizi Gratis, Polres Ngawi Cek Kesiapan di SPPG
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:05 WIB

Mobil Parkir Dua Hari di Jalur Sepeda Depan DPRD Kebumen, Picu Polemik Publik: Dugaan Pelanggaran Lalu Lintas!

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Gerak Cepat, Babinsa Paron dan Damkar Padamkan Kebakaran Rumah Warga Akibat Korsleting Listrik

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:39 WIB

Warung Kompas Presisi Polres Ngawi, Berbagi Makan Gratis Dan Serap Aspirasi Warga

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:34 WIB

Lahan Perhutani di Karanggayam Kebumen Terbakar, Api Dipadamkan Manual

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:32 WIB

Kapolres Kebumen Bantu Perlengkapan Sekolah 15 Siswa di Sempor

Berita Terbaru