Satu Jam Bersama Hasanuddin Tisi Dg Lewa: Hidup Ini Singkat, Isi Perjuangan Dengan Kebaikan..!

- Redaksi

Minggu, 19 April 2026 - 19:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikdimenai.com Bekasi – Jelang siang itu mengalir pelan. Ahad 19 April 2026. Di sebuah patio (rear terrace) area belakang rumah mewah di kawasan Bekasi Barat. Percakapan berlangsung tanpa sekat, tanpa formalitas berlebih. Di hadapan saya, duduk seorang figur yang dalam diamnya menyimpan keteguhan: *Hasanuddin Tisi Dg Lewa*— akrab disapa Tetta Lewa, Pengusaha sukses asal Sabintang, Takalar, Sulawesi Selatan, yang kini menetap di Perumahan Pondok Timur Mas, Bekasi Barat.

 

Ia bukan sekadar pengusaha. Dalam tubuhnya mengalir identitas kultural yang kuat sebagai Karaeng Mallantikang Maloloa, sekaligus tanggung jawab sebagai Pimpinan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Teranyar, ia didapuk sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Nasional (BPN) KKTP (Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku), organisasi paguyuban tanah kelahiran nya.

ADVERTISEMENT

Ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Sosoknya juga terhubung dengan jejaring nasional dan internasional, bukan sekadar karena saudara ipar Oesman Sapta Odang. Namun, karena cara berpikirnya yang jernih dan membumi.

 

Baca Juga :  PPWI Kebumen Dukung Polres Usut Dugaan Kekerasan Seksual Anak, Sunardi: Jangan Persulit Penyidik PPA

Satu jam bersama beliau terasa seperti membaca ulang makna kehidupan, dari sudut pandang seorang yang telah melewati banyak fase.

 

“Hidup ini singkat,” ujarnya pelan namun tegas, “jadi isi dengan perjuangan yang menghadirkan kebaikan.”

 

Kalimat itu bukan retorika. Ia lahir dari pengalaman panjang—dari kampung halaman di Takalar hingga perjalanan bisnis di tanah rantau. Dalam narasinya, Hasanuddin Tisi menempatkan Indonesia sebagai sebuah proyek sejarah besar yang tidak lahir secara kebetulan.

 

Ia menekankan bahwa negeri ini berdiri di atas pengorbanan para founding fathers—darah dan keringat yang tidak boleh direduksi menjadi sekadar catatan sejarah. Baginya, itu adalah fondasi moral.

 

“Basis utama lahir dan tumbuhnya negeri ini adalah perjuangan luhur. Itu harus kita jaga bersama,” katanya. “Perbedaan itu pasti ada, tapi jangan dibiarkan membeku. Harus dicairkan terus, supaya tidak jadi penghambat dan penyumbat gerak pembangunan bangsa.”

 

Di titik ini, terlihat jelas orientasi pikirannya: integratif, bukan fragmentatif. Ia memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai energi yang harus dikelola.

Baca Juga :  Diduga Intervensi Pemberitaan, Oknum Grup WhatsApp di Kebumen Halangi Karya Jurnalis

 

Namun, percakapan juga menyentuh nada keprihatinan.

 

Dengan raut wajah yang sedikit mengeras, ia mengulas kondisi bangsa hari ini—di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks, kepercayaan publik yang perlahan terkikis, serta maraknya fenomena koruptif berbagai bidang di saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi berbagai sisi.

 

“Jujur, saya prihatin,” ungkapnya. “Di saat rakyat sedang sulit, kita justru sering melihat praktik-praktik yang tidak mencerminkan keberpihakan kepada kepentingan publik.”

 

Bagi Hasanuddin Tisi, krisis terbesar bukan semata ekonomi, tetapi krisis kepercayaan (trust deficit). Ketika publik mulai kehilangan keyakinan terhadap Otoritas institusi, maka stabilitas sosial dan arah pembangunan menjadi rentan.

 

Di sinilah, menurutnya, peran tokoh masyarakat, pengusaha, dan organisasi seperti KKTP menjadi penting—bukan sekadar sebagai wadah silaturahmi, tetapi sebagai kekuatan sosial yang menjaga nilai, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan kontribusi nyata.

 

Menariknya, di tengah keseriusan itu, terselip sisi lain dari dirinya: kecintaan pada dunia otomotif, khususnya Jeep. Hobi yang ia tekuni sejak muda ini menjadi simbol karakter—tangguh, adaptif, dan siap menghadapi medan berat.

Baca Juga :  Elemen Masyarakat Turun ke Polda Sumut: Banyak Kasus Menggantung, Tak Ada Kepastian Hukum

 

Barangkali, filosofi Jeep itu pula yang ia bawa dalam hidup: bahwa jalan tidak selalu mulus, tetapi dengan ketahanan dan arah yang jelas, setiap rintangan bisa dilalui.

 

Menutup perbincangan, ia kembali pada gagasan awal—tentang waktu yang singkat dan makna perjuangan.

 

“Yang kita kejar bukan sekadar berhasil,” katanya, “tapi bagaimana keberhasilan itu punya arti bagi orang lain.”

 

Satu jam itu terasa padat. Bukan karena banyaknya kata, tetapi karena kedalaman makna. Dari Hasanuddin Tisi Dg Lewa, kita belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita ada, melainkan tentang apa yang kita tinggalkan—jejak kebaikan atau sekadar jejak biasa, seperti secangkir kopi hitam yang dibaluri gula aren cair, nikmat dan berasa.

 

Oleh : Yahdi Basma

 

(Sastrawan Politik Palu)

(TIM/RED)

 

Berita Terkait

Sidak Tambang Sayutan, DPRD dan ESDM Jatim Sepakat Dorong Penghentian Sementara Aktivitas Penambangan
Klirong Geger: Warga Tuntut Usut Tuntas, Takut Pelaku “Beli” Keadilan atas Kekerasan Seksual Anak
Panen Jagung Bersama Petani, Polsek Paron Wujudkan Dukungan Ketahanan Pangan di Ngawi
Kapolres Cup 2026 Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Turnamen Billiard 8 Ball Jadi Ajang Pencarian Bibit Atlet Baru
17 Taruna Akpol Batalyon Manggala Satya Jalani Latihan Kerja di Polres Kebumen
Mengapa ‘Ijasah Jokowi’ Jadi Taruhan Moral Bangsa? Wilson Lalengke Bawa Plato dan Kant untuk Uji Kejujuran Indonesia
Sengketa Tanah di Rote Ndao: Seruan Moral untuk Keadilan dan Pelayanan Publik
Unit PPA Polres Kebumen Menang Praperadilan, Masyarakat Apresiasi Profesionalisme Penyidik
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:07 WIB

Sidak Tambang Sayutan, DPRD dan ESDM Jatim Sepakat Dorong Penghentian Sementara Aktivitas Penambangan

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:04 WIB

Klirong Geger: Warga Tuntut Usut Tuntas, Takut Pelaku “Beli” Keadilan atas Kekerasan Seksual Anak

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:53 WIB

Panen Jagung Bersama Petani, Polsek Paron Wujudkan Dukungan Ketahanan Pangan di Ngawi

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:51 WIB

Kapolres Cup 2026 Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Turnamen Billiard 8 Ball Jadi Ajang Pencarian Bibit Atlet Baru

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:04 WIB

17 Taruna Akpol Batalyon Manggala Satya Jalani Latihan Kerja di Polres Kebumen

Berita Terbaru