Detikdimensi.com Kebumen – Di tengah hiruk-pikuk dinamika sosial, sebuah gerakan kemanusiaan yang lahir dari kepedulian individu berhasil menyentuh sisi paling rentan masyarakat. Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., yang saat ini mengemban amanah sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0709 Kebumen, bersama sekelompok pegiat sosial dan donatur, telah merenovasi lima unit rumah tidak layak huni (RTLH) di Kabupaten Kebumen.
Hingga pertengahan Juni 2026, gerakan sukarela ini telah menyelesaikan renovasi pada beberapa unit, sementara sisanya masih dalam tahap pengerjaan akhir. Yang membedakan gerakan ini dari program bantuan pemerintah pada umumnya adalah sifatnya yang murni inisiatif pribadi, tanpa melibatkan anggaran instansi militer, dana dinas sosial, atau birokrasi formal lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan Program Instansi, Melainkan Empati Individu
Dalam tinjauannya ke Desa Jatisari, Kecamatan Kebumen, pada Minggu (14/6/2026), Letkol Eko menegaskan batasan yang jelas antara tugas kedinasannya dengan aktivitas sosialnya. Ia menekankan bahwa kegiatan bedah rumah ini digerakkan oleh hati nurani seorang manusia terhadap sesama, bukan sebagai bagian dari instruksi komando atau program kerja TNI.
“Penting untuk diluruskan bahwa ini bukan program instansi, apalagi proyek anggaran negara. Ini murni bentuk kepedulian pribadi saya, bersinergi dengan teman-teman komunitas pecinta kegiatan sosial dan para donatur yang memiliki visi sama,” terang Eko saat mendampingi tim relawan di lokasi renovasi rumah milik AD, seorang anak yatim piatu.

Eko menjelaskan bahwa mekanisme pendataan dilakukan secara independen oleh tim relawan komunitas. Mereka turun langsung ke lapangan, berdialog dengan warga, dan memverifikasi kondisi fisik bangunan untuk memastikan bantuan benar-benar menjangkau mereka yang berada dalam kondisi kritis. Prioritas utama diberikan kepada kaum dhuafa, lansia terlantar, dan anak yatim piatu yang tempat tinggalnya sudah membahayakan keselamatan jiwa, seperti atap yang nyaris runtuh atau dinding yang rapuh.
Kisah AD: Dari Hunian Rapuh Menuju Ketenteraman
Salah satu bukti nyata dampak dari gerakan ini terlihat pada kondisi tempat tinggal AD (inisial), seorang anak yatim piatu yang tinggal sebatang kara di Desa Jatisari. Sebelum intervensi dilakukan, AD hidup dalam ketidakpastian setiap kali musim hujan tiba. Rumah kayu tua yang dihuninya memiliki atap seng yang bocor di berbagai titik dan dinding yang mulai lapuk dimakan usia. Kondisi lembap dan gelap membuat hunian tersebut tidak sehat dan tidak nyaman untuk ditinggali seorang diri.
Melalui gotong royong yang diinisiasi oleh Eko dan komunitasnya, wajah rumah AD berubah total. Proses renovasi mencakup penggantian rangka atap yang keropos, pemasangan genteng baru yang lebih tahan lama, perbaikan struktur dinding, hingga pengecatan ulang untuk memberikan kesan segar dan melindungi kayu dari rayap. Seluruh biaya material dan upah tenaga kerja ditanggung sepenuhnya oleh sumbangan sukarela dari para donatur dan keringat para relawan komunitas.
AD, yang tampak haru saat rumahnya ditinjau, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Bagi seorang yatim piatu dengan keterbatasan ekonomi, bantuan ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan pemulihan rasa aman dan harga diri.
“Terima kasih banyak kepada Pak Eko dan teman-teman komunitas yang sudah membantu. Saya sangat terbantu. Selama ini, setiap hujan turun, saya harus bersiap-siap menampung air karena atap bocor. Sekarang, rumah saya sudah diperbaiki total. Saya bisa tidur lebih tenang dan merasa lebih aman,” katanya.
Apresiasi Warga: Bukti Kepedulian yang Tepat Sasaran
Langkah mulia yang diambil oleh Eko dan rekan-rekan komunitasnya mendapat respons positif dari lingkungan sekitar. Warga menilai pendekatan personal dan langsung ke akar rumput ini lebih efektif dalam menjangkau mereka yang sering kali luput dari radar bantuan formal.
Hadi, seorang tetangga AD yang menyaksikan proses renovasi dari awal hingga selesai, memberikan kesaksian tentang urgensi bantuan tersebut. Menurutnya, AD adalah sosok yang sangat membutuhkan uluran tangan karena tidak memiliki keluarga inti yang dapat menopang kebutuhan finansialnya.
“Kami sebagai warga sangat berterima kasih kepada Pak Eko dan teman-teman komunitas sosial. Bantuan ini benar-benar tepat sasaran dan tulus. Rumah AD sebelumnya sangat memprihatinkan; jika hujan deras, air pasti masuk ke dalam rumah. Sekarang, rumahnya sudah layak huni, bersih, dan AD bisa tinggal dengan lebih nyaman. Ini adalah bantuan nyata bagi warga yang benar-benar tidak memiliki biaya untuk membangun atau memperbaiki rumahnya sendiri,” ungkapnya.
Jejak Kebaikan di Tiga Kecamatan
Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim relawan komunitas, kelima unit rumah yang menjadi sasaran renovasi dalam gelombang pertama ini tersebar di tiga wilayah berbeda, yakni Kecamatan Alian, Kecamatan Ambal, dan Kecamatan Kebumen. Variasi lokasi ini menunjukkan bahwa pendataan dilakukan secara menyeluruh tanpa memandang batas administratif kecamatan, selama kriteria ketidakhunian dan kemiskinan terpenuhi.
Status pengerjaan kelima rumah tersebut bervariasi. Sebagian besar telah rampung 100 persen dan kunci rumah telah diserahkan kembali kepada pemilik dengan perasaan lega. Sementara itu, sisa unit lainnya sedang dalam tahap finishing dan ditargetkan selesai dalam waktu dekat agar penghuni dapat segera menempati hunian yang lebih layak.
Komitmen Keberlanjutan Tanpa Batas Birokrasi
Menutup kunjungannya, Eko menyatakan bahwa gerakan sosial ini tidak akan berhenti hanya pada lima rumah tersebut. Ia berkomitmen untuk terus melanjutkan misi kemanusiaan ini sepanjang masih ada dukungan dari para donatur dan semangat dari para relawan komunitas.
Koordinasi dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat tetap dilakukan, namun lebih bersifat informatif untuk menghindari duplikasi data, bukan sebagai jalur permohonan bantuan resmi. Tujuannya adalah agar identifikasi penerima manfaat tetap akurat dan transparan.
“Kami berharap gerakan kebaikan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi pihak lain. Tujuan akhir kami sederhana: mewujudkan hunian yang layak bagi saudara-saudara kita yang kurang mampu di Kabupaten Kebumen, sehingga tidak ada lagi warga yang tinggal dalam ketakutan karena ketidaklayakan rumah,” tutup Eko.
Melalui inisiatif pribadi ini, Eko Majlistyawan membuktikan bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus menunggu arahan birokrasi atau bergantung pada anggaran negara. Gerakan yang dimulai dari hati nurani individu, ketika dikolaborasikan dengan kekuatan komunitas, mampu menciptakan perubahan nyata yang menyentuh kehidupan mereka yang paling membutuhkan.
(TIM)








