Detikdimensi.com, Kebumen – Penyalahgunaan obat keras seperti Tramadol, Hexymer, dan Alprazolam menjadi masalah serius di masyarakat. Obat-obatan ini memiliki peran penting dalam dunia medis, namun penyalahgunaannya dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosial.
Nurudin, Pendiri Yayasan Cahaya Bambu Wulung , menjelaskan bahwa Tramadol adalah obat golongan analgesik opioid yang digunakan untuk meredakan nyeri sedang hingga berat, seperti nyeri pascaoperasi atau nyeri kronis tertentu. Namun, penyalahgunaannya dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis, serta risiko overdosis yang fatal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tramadol dapat menimbulkan efek euforia, rileks, dan mengantuk, sehingga banyak orang mengonsumsinya tanpa resep atau melebihi dosis yang dianjurkan. Dampak penyalahgunaan Tramadol dapat berupa mual, pusing, gangguan pernapasan, kejang, serta penurunan kesadaran,” terang pendiri yayasan Cahaya Bambu Wulung, Rabu (18/02/2026).
Lanjut Nurudin mengungkap bahwa Hexymer atau Trihexyphenidyl digunakan untuk mengatasi gangguan gerak, seperti penyakit Parkinson atau efek samping obat antipsikotik. Namun, penyalahgunaannya dapat menyebabkan gangguan mental seperti kebingungan, delirium, dan paranoia.
“Hexymer dapat menimbulkan efek halusinasi, rasa senang berlebihan, dan perubahan kesadaran jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Penyalahgunaan Hexymer sangat berbahaya karena dapat merusak fungsi otak dan meningkatkan risiko gangguan kejiwaan permanen,” ungkap Nurudin.
Dia menambahkan, terkait Alprazolam, obat golongan benzodiazepin, digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan, serangan panik, dan insomnia tertentu. Namun, penyalahgunaannya dapat menyebabkan ketergantungan dan gejala putus obat yang berat.
“Alprazolam dapat menimbulkan efek tenang, nyaman, dan ‘lepas dari masalah. Namun, penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan, di mana tubuh membutuhkan dosis yang semakin tinggi untuk mendapatkan efek yang sama,” ujarnya.
Lalu Nurudin menekankan bahwa penyalahgunaan obat-obat ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada kehidupan sosial. Pengguna sering mengalami penurunan produktivitas, konflik keluarga, masalah hukum, serta gangguan hubungan sosial.
“Penyalahgunaan obat menjadi pintu masuk menuju penyalahgunaan zat lain yang lebih berbahaya. Oleh karena itu, edukasi tentang obat-obatan sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan,” jelasnya.
Nurudin berharap masyarakat dapat lebih waspada dan bijak dalam menggunakan obat-obatan, serta selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya.
“Kesehatan adalah harta yang paling berharga, jangan sampai kita kehilangan karena penyalahgunaan obat,” pungkasnya.
(SND)








